oleh

Bos, Sering Makan Tak Pakai Sendok – ~

-SUKA-46 views
Yudha MAR

“Dek besok ke Jambi ya,” Bos Parno perintah kepada saya, Juni lalu. Saya pun langsung menjawab, Siap Bos. Kemudian  saya mempersiapkan mobil. Mengecek kendaraan dan menelpon kawan- kawan rute apakah rusak. Atau terjadi kemacetan. Karena Palembang – Betung – Sungai Lilin- Jambi sering terjadi kemacetan.

Ya saya di kantor Palembang Ekspres, Grup Sumatera Ekspres bekerja di bagian pemasaran. Tapi kalau urusan dinas ke luar kota – saya sering diminta mengantarnya.

Senang juga saya bisa menjadi sopir bos. Kalau dinas luar kota seperti itu. Pokoknya basah. He..he,,he,,mengenang Apalagi mengantar atau menjadi sopir CEO Sumeks Grup H Suparno Wonokromo. Selain basah bisa diajak ngobrol soal pekerjaan dan banyak yang saya dapat dari beliau.

Saya biasa, memanggil beliau dengan Pak Parno. Terkadang juga sering memanggil Bos Parno.

Terakhir diajak ke Jambi itu untuk sebuah urusan pekerjaan. Kalau tidak salah untuk membereskan administrasi. Di Jambi ketemu dengan H Dulpiah, H Ucok Syarkowi dan H Munawir. Pimpinan Jambi Ekspres, Jambi Tv dan Jambi Independent.

Sedih banget rasanya. Dan tak menyangka itulah  pertemuan terakhir dengan beliau. Insya Allah husnul khotimah. Bos orang baik. Aamiin. Maafkan saya pak.

Saat saya mengantar ke Jambi kondisi Pak Parno  sehat. Tapi tidak ceria. Saya dengar baru pulang dari rumah sakit. Tapi belum operasi. Jadi saat di mobil Toyota Alphard beliau banyak istirahat.

Ini berbeda ketika saya mengantar bos ketika pulang kampungnya  di  Pocol Ngawi saat Idul Fitri 2004. Atau saat mengantar ke Jambi, Lampung, Bengkulu, ke Jakarta. Saat itu bos di perjalanan  sangat ceria, sehat dan luar biasa energinya.

Saya sangat terkenang betul. Di perjalanan bos Parno memutar kaset wayang tak henti-hentinya. Mulai video cakram Ki Manteb Sudarasono, Ki Sunarto maupun dalang – dalang lainnya. Karena Palembang – Ngawi belum ada tol, waktu itu memakan waktu dua hari dua malam. Ya, terkadang kalau saya terlihat agak jenuh, kaset video di tape mobil itu digantinya dengan lagu dangdutan dan campur sari.

Puluhan kaset dilahap, diputar berkali – kali. Jujur kadang juga terlihat agak jenuh. Tapi demi kerja  tetap  siap. Apalagi saya tidak mengerti bahasa wayang. Tapi kalau bos agak senyum saya ikut senyum.

Ngerti apa dek bahasa Jawa wayang, kok ikut senyum? Tidak pak. Ikut senyum saja. Bos senyum, saya ikut senyum, jawab saya waktu itu. Lucu juga. Kami pun berdua senyum. Ah Kamu dek, kata Pak Parno. Kami pun tancap gas di jalur pantura waktu itu. Dan kalau terlihat ngebut, diingatkan. Atapun kalau ngantuk berhenti ngopi.

Setelah sampai di kampung Desa Pocol, Kecamatan Senai, Ngawi. Bos Parno menggelar wayangan semalam suntuk. Dalangnya ya bos Parno sendiri. Pernah juga, mengundang Pak Manteb Sudarsono.

Ya, hampir  kalau mudik tahunan beliau selalu menggelar wayangan. Dan penontonnya  sebagian besar tetangga dekat. Sambil nonton  selalu disiapin makanan -dan camilan. Snack, kopi, roti,  dan rebusan umbi-umbian.

Saya memang beberapa kali diajak mudik ke Ngawi oleh Pak Parno. Seingat saya kali pertama memakai mobil Terrano, penah juga memakai Fortuner, Alpahard, Pajero, dan terakhir memakai Toyota Prado.

Soal makanan, Bos Parno tak pilih-pilih. Saat mudik misalnya, ada warung Padang , soto, pindang semua tidak ada pantangan atau tantangan.  Bisa dikatakan apa yang dimakan bos ya itu saya makan. “Dan kalau makan beliau  sering  memakai tangan. Bisa dihitung memakai sendok. Nerapkan sunah Nabi ?

Sekali lagi maafkan saya pak. Bapak orang baik. Semoga husnul khotimah. Aaamin.

(Abdul Kadir, Palembang Ekspres)



Terimakasih sudah membaca rangkaian kata Bos, Sering Makan Tak Pakai Sendok – Yudha MAR ini, semoga dapat bermanfaat untuk kita semua.

©

Nilai Kata & Kalimat

Komentar

Berikan Komentarmu

News ToDay